Istrinya Akan Melahirkan, Tapi Dalam Ruang Bersalin Suaminya Berlutut Dan Berkata “Dok, Kami Tidak Mau Lagi Anak Itu”, Dokter dan Perawat pun Terkejut Mendengarnya...


Saat-saat melahirkan biasanya adalah momen yang paling ditunggu oleh pasangan orang tua, apalgi bila yang dinantikan adalah anak pertama.
Tapi ternyata tidak semua pasangan melihat proses melahirkan adalah momen yang indah.
seperti yang dialami oleh pria ini saat menemani istrinya yang akan melahirkan.
Setelah menikah, Dena tetap saja terlihat seperti orang yang sedang kasmaran, sang suami selalu memanjakannya.
Enam bulan setelah menikah, Dena pun hamil, dan suaminya selain waktu kerja, selebihnya ia habiskan untuk menemani Dena isterinya, membawanya jalan-jalan dan menyediakan makanan yang lezat untuknya.
Sepanjang masa kehamilan berlalu dengan lancar, namun setiap pemeriksaan kehamilan, suami Dena selalu menemaninya meski dengan risiko gaji dipotong, karena anak yang dikandung Dena adalah anak mereka berdua, jadi dia harus selalu menemaninya. Kata sang suami yang sangat menyayangi Isterinya.
Seiring dengan perut Dena yang semakin besar, dan waktu kelahiran juga semakin dekat, Dena dan Deny suaminya menanti dengan harap-harap cemas dan terlihat tegang.
Suatu pagi, Dena melihat air ketubannya pecah saat bangun tidur, ia pun berteriak memanggil suaminya yang segera membawanya ke rumah sakit.
Dena yang bersikeras berjalan membuat kagum para bidan, karena mereka jarang melihat ada wanita hamil yang bisa dengan begitu tenangnya menahan nyeri.
Bidan rumah sakit juga memberinya semangat, dan pada saat-saat genting, Dena melarang suaminya melihat lantai, karena ia tahu persis banyak darah berceceran di lantai, sebab ia bisa merasakan cucuran darah dari anggota badan bagian bawah.
Ia takut akan ada bayangan psikologis pada suaminya.
Mulut rahim sudah mulai membuka selebar 2 cm saat pemeriksaan di rumah sakit, Dena langsung disuruh masuk ke ruang tunggu untuk proses persalinan diikuti suaminya.
Karena kontraksi rahim tidak kuat, dokter menyarankan agar proses persalinan dilakukan secara induksi, karena air ketuban sudah pecah.
Akan sangat berisiko jika janinnya tidak segera dikeluarkan. Kontraksi semakin kuat tak lama setelah suntikan oksitosin.
Anggota bagian bawah tubuh Dena terus mengalirkan darah, dan suami Dena menggenggam erat tangan isterinya, tak tega melihat Dena tampak begitu tersiksa.
Rasa nyeri yang tak tertahankan akibat kontraksi membuat Dena terus berteriak, dan di bagian bawah anggota badannya juga terus mengucurkan darah segar.

Back To Top