Tetapi tidak dijelaskan seperti apa bisnisnya. Malahan yang muncul dalam penjeladan ibunya bisnis properti dan tampak sedang macet proyek propertinya. Di hadapan mereka duduk dua orang yang wajahnya jelas-jelas ingin agar penonton mengidentifikasi itu adalah pasangan Ahok-Djarot. Keduanya digambarkan dengan wajah yang takut sambil minta sogokan. Disebut-sebut juga kata "gubernur baru" yang menurut kedua pasangan susah diatur (?), kemudian ibunya Pengki bilang, "Semua bisa disogok". Ini hanya salah satu bagian dari cerita yang menunjukkan betapa film ini, selain penuh jiplakan ceritanya juga mentah. Alhasil banyak keajaiban-keajaiban yang tidak logis yang berujung pada cerita film yang kacau karena gagal bercerita yang disertai dengan karakter yang lemah.
Akibatnya pemain-pemain sekaliber Lidya Kandouw, Omas, Mariam Bellina, Komar bahkan Rano Karno yang memiliki hubungan khusus dengan Benyamin, malah tidak menemukan alur cerita yang menantang dan memompa kejenialan membawakan karakter mereka. Mereka tak lebih hanya melakukan adegan-adegan imitasi dari film Hollywood sampai Hongkong. Demikianlah nasib film yang hanya mendompleng judul dan nama besar Benyamin Sueb dari film garapan Nawi Ismail pada 1972. Benyamin Biang Kerok garapan Hanung Bramantyo dihidupkan untuk mempermalukan bukan hanya
Benyamin dan keluarga, tetapi juga para sahabatnya di dunia film. Adalah benar melalui film ini nama Benyamin menjadi naik dan dibicarakan lagi. Tetapi, buat apa jika dinaikkan untuk dipermalukan. Buat apa jika dibicarakan untuk jadi bahan pelecehan. Bahkan pesan keluarga kepada Rumah Produksi Falcon Pictures pun diabaikan.
Pesan tidak ada pusar, rokok, minuman keras, semua dilanggar, juga adegan kekerasan. Belum lagi jika bicara tradisi Betawi dalam film tersebut.
Boleh dikata, narasi Betawi dalam film ini tidak ada selain sebatas jiplakan yang ditempel asal-asalan. Jangan harap film ini seperti Biang Kerok dari Nawi Ismail, Si Doel dari Sjumandjaja atau Rano Karno di sinteronnya yang menggugah dan mendorong penafsiran kebetawian dan nilainya.
Film garapan Hanung ini jauh dari nilai-nilai dan filosofi kebetawian. Tak bernilai selain komersial dan hanya memalukan Benyamin dengan kebetawiannya. "Celakanya Falcon dan Reza Rahadian yang memerankan sebagai Pengki, terus melakukan promo film terbarunya itu. Bahkan, kabarnya film Benyamin Biang Kerok dibagi menjadi dua bagian.
Dijadwalkan akan tayang pada bulan Desember mendatang," ungkap Fadjriah, Ketua Perkumpulan Betawi Kita melalui siaran pers. Fadjriah menambahkan, lantaran alasan-alasan di atas, maka Perkumpulan Betawi Kita menghimbau agar warga masyarakat khususnya Betawi tidak menonton film tersebut, dan keluarga Benyaminn S membatalkan pemakaian nama Benyamin untuk film bagian kedua yang sudah dibuat untuk tayang Desember mendatang.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perkumpulan Betawi Kecewa Film Benyamin Biang Kerok", https://entertainment.kompas.com/read/2018/03/22/011618410/perkumpulan-betawi-kecewa-film-benyamin-biang-kerok.
Penulis : Jodhi Yudono
Editor : Jodhi Yudono

